![]() |
| Direktur Utama Pertamina yang baru Dwi Soetjipto. |
Artikel Tentang Dunia Geologi, Eksplorasi, Energi, dan Sumberdaya Alam
Labels
Showing posts with label Semen. Show all posts
Showing posts with label Semen. Show all posts
Pemerintah Tunjuk Dwi Soetjipto Sebagai Dirut Baru Pertamina
Gencarnya Investasi Pabrik Semen di Indonesia (Konflik Sumber Daya - 2)
![]() |
| Ilustrasi Penambangan Karst di Aceh |
Di tengah pertumbuhan ekonomi negara indonesia yang mencapai 6% pertahun, kebutuhan akan bahan baku bangunan terutama semen semakin meningkat. Diperkirakan dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5-6% pertahun, kebutuhan akan semen diperkirakan meningkat sebesar 10 - 12 % pertahun. Hal ini mengakibatkan banyak pengusaha melirik indonesia sebagai salah satu tujuan investasi pabrik semen.
Hal ini diakibatkan karena pembangunan infrastuktur di indonesia semakin berkembang. Berbagai proyek seperti Jalan Tol Trans Jawa, Bandara , Pelabuhan, pembangkit listrik dan pembangunan smelter mineral menjadi prioritas utama pemerintah melalui program MP3EI (Masterplan Percepatan, Perluasan dan Pembangunan Ekonomi Indonesia).
Pabrik Semen Rembang , Untuk Siapa ? (Konflik Sumber Daya - 1 )
Sekitar 2 bulan ini warga daerah Gunem Rembang, Jawa Tengah
resah diakibatkan adanya ijin penambangan batu gamping untuk dijadikan pabrik
semen. Penambangan ini dilakukan oleh PT semen Indonesia untuk mencukupi
kebutuhan pabriknya. Sebagian besar warga ini menolak adanya penambangan di
daerah ini karena dikuatirkan akan terjadi kerusakan lingkungan. Warga yang
sebagian besar merupakan petani ini mengkuatirkan hilangnya mata air di wilayah
ini.
Seperti diketahui bahan baku semen berasal dari batugamping
yang menyimpan mata air tanah. Daerah ini dikenal dengan kawasan Karst. Secara
umum kawasan karst merupakan hasil geologi dari batuan gamping yang telah
terlarutkan oleh air tanah sehingga menjadikan adanya gua – gua bawah tanah.
Gua – gua inilah yang menjadikan sumber mata air bagi penduduk sekitar.
Semen Indonesia Investasikan 3,7 T di Pabrik Semen Rembang
PT Semen Indonesia hingga Juli 2014 mengalami kenaikan penjualan di pasar dalam negeri sebesar 0,3 % menjadi 14,42 juta ton dari periode tahun 2013 sebesar 14,37. Penjualan ini ditopang olaeh pabrik semen gresik sebesar 7,8 juta ton naik 4,2 % dibandingkan tahun lalu sebesar 7,49 juta ton. Penjualan tertinggi kedua ditopang oleh semen tonasa sebesar 2,92 juta ton, naik 0,6 % dibandingkan tahun lalu sebesar 2,9 juta ton. Sementara penjualan semen padang sebesar 3,69 juta ton mengalami penurunan sebesar 7,1% dari sebelumnya 3,99 juta ton.
Ditengah gencarnya isu masyarakat ekonomi asia (MEA), Semen Indonesia terus meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini perseroan fokus dalam pembangunan 2 pabrik semen di padang dan rembang yang masing - masing berkapasitas 3 juta ton / tahun. Investasi perseroan dalam pembangunan pabrik rembang mencapai 3,717 Trilliun. sedangkan untuk pabrik Indarung VI Padang mencapai 3,25 Trilliun. Hal ini menunjukan bahwa pembangunan pabrik cukup efisien dan memiliki prospek yang sangat baik.
![]() |
| Aktivitas produksi di Pabrik Semen Indonesia |
Tekstur Batuan Sedimen
Tekstur Batuan
Sedimen
Secara umum
tekstur adalah aspek batuan yang dipengaruhi oleh ukuran,bentuk, dan
keteraturan dari butirannya, sedangkan kemas asalah komponen tekstur yang
merupakan hubungan ukuran dan bentuk dari butir .
Unsur - unsur
tekstur batuan sedimen antara lain :
Besar Butir
(Grain Size)
![]() |
| Skala Besar Butir (Wentworth) |
Besar butir
adalah unsur utama dari tekstur batuan sedimen klastik, yang berhubungan dengan
tingkat energi pada saat transportasi dan pengendapan. Klasifikasi besar butir
yang sering dipakai dengan menggunakan skala Wentworth. Klasifikasi besar butir
ini sangat penting karena dipakai sebagai salah satu penamaan batuan sedimen.
Diagenesis Batupasir
1. TINJAUAN DIAGENESIS
Diagenesis didefinisikan sebagai semua perubahan aspek
fisika, kimia, dan biologi pada sedimen sesaat setelah terjadinya pengendapan
butiran, akan tetapi sebelum mengalami proses metamorfosis (temperatur
<150-200°C). Perubahan dapat terjadi ketika terjadinya interface antara
air dan sedimen, dan dikenal sebagai halmyrolysis,
akan tetapi sebagian besar aktifitas diagenesis terjadi setelah pembebanan (burial).
Yang termasuk dalam aktifitas halmyrolysis adalah alterasi dari biotit
menjadi glaukonit pada lantai samudera, atau perusakan cangkang moluska oleh boring
sponges sebagai cangkang pada lantai samudera (Ehlers and Blatt, 1982).
Proses diagenesis lainnya terjadi pada saat deeper burial antara 70 dan
140°C (Surdam et al., 1989 op. cit. Thyne, 1999).
Diagenesis meliputi proses fisika dan kimia (Gambar 1). Diagenesis
secara fisika meliputi bioturbasi dan kompaksi. Sedangkan secara kimia yaitu
sementasi, pelarutan (dissolution), penggantian (replacement),
rekristalisasi, dan generasi hidrokarbon (Boggs, 1992 op. cit. Kameda, 2004).
Bioturbasi akan mereworks sedimen yang mengendap
dengan cara crawling, burrowing dan sediment-ingesting of organisms,
hal ini akan merusak karakteristik ataupun feature dari pengendapan
primer. akan tetapi, perubahan porositas oleh kompaksi lebih berpengaruh dibandingkan
karena adanya bioturbasi.
Kompaksi merupakan pengurangan atau reduksi dari volume
sedimen dan pengurangan porositas oleh pembebanan sedimen dan gaya tektonik. Temperatur juga berpengaruh
terhadap kompaksi dengan adanya pressure solution.
Diagenesis
secara kimia disebabkan oleh reaksi kimia dalam batuan oleh adanya perubahan
tekanan dan temperatur. Seperti kebanyakan sedimen yang terendapkan pada kondisi
subaqueously atau di bawah muka air tanah, akan menyebabkan sedimen jenuh
air. Selama burial, mineral berada pada kontak atau batas yang konstan
yang mengandung salinitas dan kondisi redoks yang beragam. Air pori dapat juga mengandung
karbon organik terlarut. Batupasir umumnya memiliki kandungan karbon organik
kurang dari 0.5 % (Boggs, 1992 op. cit. Kameda,
2004). Kandungan organik bersifat reaktif dan dapat menghasilkan reaksi ion
hidrogen dan bikarbonat yang merubah kondisi air pori dan menyebabkan ketidakstabilan mineral.
Selama early burial, reaksi kima ini akan menyebabkan presipitasi pirit,
klorit, illit/smektit, kwarsa dan felspar overgrowth, dan presipitasi
semen karbon (Burley et al., 1985 op.
cit. Kameda, 2004).
2. KOMPAKSI
Kompaksi merupakan salah satu
tahapan penting dalam diagenesa batuan. Kompaksi biasanya terjadi segera
setelah sedimen diendapkan, terjadi karena adanya pembebanan dari material yang berada di atasnya semakin
bertambah. Proses kompaksi ini menyebabkan hubungan antar butir semakin
mendekat (grain packing dan grain fabric berubah), mengurangi jarak
antar pori (porositas berkurang) dan mengurangi kandungan air yang terdapat
pada sedimen tersebut. Adanya kadungan air ini dapat membawa mineral-mineral
yang larut, sehingga nantinya menghasilkan mineral-mineral baru yang terdapat
pada rongga-rongga batuan. Hal itu dapat memicu terjadinya sementasi sebagai
proses pengikatan dari partikel-partikel yang terpisah menjadi bersatu.
Pada tahap yang lebih lanjut, kompaksi dan burial
dapat menyebabkan rekristalisasi sehingga menghasilkan batuan menjadi lebih
kompak dan keras.
Pada batuan sedimen proses kompaksi akan menghasilkan
karakteristik yang berbeda-beda. Dalam hal ini, penulis menekankan kepada
proses kompaksi yang terjadi pada batupasir. kita mengetahui bahwa batupasir
memiliki jenis yang berbeda-beda pula. Penulis dalam hal ini juga akan
menekankan kepada batupasir dengan komposisi utamanya adalah mineral kuarsa.
Pasir memiliki kekompakan yang lebih kecil dibandingkan
dengan lumpur (mudrock). Kompaksi
yang tidak terlalu besar pengaruhnya pada batupasir dapat disebabkan oleh
beberapa hal, diantaranya adalah :
Pertama, batupasir terdiri dari butiran mineral
kuarsa yang berukuran relatif besar. Butiran-butiran kuarsa ini biasanya tidak berubah pada kondisi-kondisi
pengendapan. Yang kedua adalah bahwa mudrock
mengandung air yang cukup tinggi dan air ini sewaktu-waktu dapat keluar jika
mendapat tekanan.
Pada percobaan yang dilakukan di laboratorium, batupasir
yang komposisi utamanya adalah mineral kuarsa hanya mengalami perubahan
ketebalan sekitar 10 – 15%. Pengaruhnya yaitu kepada rearrangement of grain dan chipping of grain corners.
Kompaksi pada
batupasir ini dapat terjadi pada dua kondisi, yaitu :
Kondisi Un-Cemented
sediment at grain to grain contact .
Kondisi un-cemented dalam hal ini adalah pada
kontak antar butirnya. Jika sedimen telah
mencapai kondisi yang cukup padat, maka setiap butiran akan menyesuaikan
dirinya dan akan berubah mengikuti bidang gelincirnya, kemudian mengalami reorientasi, dan fracture of radical grains, serta
overburden ini ditransformasikan melalui kontak antar butir ini (gambar 2.a).
Adanya gaya (stress)
yang kontinu akan menghasilkan dissolution pada daerah kontak antar butirnya
(gambar 10.b). ketika terjadi proses disolution
compaction, bagian-bagian yang saling bersentuhan kemungkingan akan larut
dan mungkin akan terbawa keluar melalui
rongga-rongga yang terdapat diantara butiran–butiran. Menurut Sibley dan Blatt,
(1976) fluida dari hasil kompaksi ini dianggap sebagai sumber atau source dari semen selain semen kuarsa
dan kalsit. Larutnya kuarsa atau kalsit mungkin terjadi karena precipitasi
secara lokal, atau bisa juga terdapat pada larutan yang masuk di antara butiran
yang sedang mengalami kompaksi (e.g. Moore, 1985)
BATUAN KARBONAT (BATUGAMPING DAN DOLOMIT)
Komponen pembentuk batuan karbonat :
1. Butiran
karbonat (allochems):
·
Butiran skeletal: fragmen bagian yang keras
dari organisme yang kalkareous dan cangkang yang tidak pecah seperti moluska,
echinoid, ostrakoda, dan foraminifera.
·
Ooid: berbentuk speroidal, butiran berukuran
pasir terdiri dari korteks (kulit luar) aragonit atau kalsit yang dibentuk oleh
akresi kimia di sekitar inti partikel.
·
Pellets: berbentuk speroidal atau elipsoid,
berukuran pasir, terdiri dari mikrit, tidak punya struktur dalam.
·
Litoklas: fragmen batuan karbonat
- Intraklas:
fragmen batuan karbonat yang terbentuk lebih awal (berasal dari cekungan yang
sama)
- Ekstraklas:
fragmen batuan karbonat dari umur yang berbeda atau berasal dari cekungan yang
berbeda
2. Matrik
lumpur karbonat (mikrit): agregat (kumpulan) kalsit mikrogranular.
3. Semen spar:
kalsit granular yang terekristalisasi dalam ruang kosong dalam endapan karbonat
atau batugamping, terutama dalam ruang kosong antar butir dan dalam rongga
fosil.
Komposisi
kimia/mineral:
·
Aragonit CaCO3 (ortorombik): hasil presipitasi langsung
dari air laut, bentuk serabut, tidak stabil
·
Kalsit CaCO3 (heksagonal): mineral lebih stabil,
berbentuk hablur yaang baik/spar, kalsit bila diberi alizarin red menjadi merah
·
Dolomit CaMg(CO3)2: berbentuk belah ketupat,
tidak bereaksi dengan alizarin red, kebanyak hasil dolomitisasi dari kalsit
·
High
Magnesium Calcite: larutan padat MgCO3 dalam kalsit
·
Magnesit MgCO3: biasanya
berasosiasi dengan evaporit
·
Siderit FeCO3
Tekstur
batuan karbonat:
1. Tekstur primer,
menyangkut:
Kerangka
organik (organic framework texture)
Klastik (clastic texture)
Masa dasar (matrix texture)
2.
Tekstur sekunder / Tekstur Diagenesa, menyangkut kehabluran / crystalinity yang
diperlihatkan oleh:
Semen yang mengisi rongga-rongga antar butir
Rekristalisasi sebagian atau seluruh masa dasar maupun kerangka/butiran
Subscribe to:
Posts (Atom)
Featured post
Bio Mining Masa Depan Tambang Hijau
Kondisi Penambangan saat ini ( sumber ) Pada saat ini penambangan sumber daya alam selalu bertentangan dengan lingkungan alam. Penamb...
loading..




